Minggu, 26 Maret 2017

Keutamaan Orang Kaya Dan Orang Miskin

Keutamaan Orang Kaya Dan orang Miskin Pada zaman penuh gemerlap seperti sekarang ini menyebabkan manusia terlena. Perbedaan keadaan ekonomi antara si kaya dan simiskin membuat jurang pemisah antara keduanya semakin jauh. Hanya sedikit manusia yang ingat kepada Allah SWT. Perbedaan miskin dan kaya ini sudah terjadi semenjak para Nabi di utus oleh Allah SWT. Kecemburuan keduanya pun sudah pernah terjadi sejak masa Rasul SAW. Ketika Rasulullah s.a.w. sedang duduk-duduk bersama orang mukmin yang dianggap rendah dan miskin oleh kaum Quraisy, datanglah beberapa pemuka Quraisy (orang-orang kaya) hendak bicara dengan Rasulullah, tetapi mereka enggan duduk bersama mukmin itu, dan mereka mengusulkan supaya orang-orang mukmin itu diusir saja, lalu turunlah ayat yang artinya: “dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaanNya. kamu tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatan mereka dan merekapun tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, (sehingga kamu Termasuk orang-orang yang zalim). (Q.S Al-An’am 6: 52) Demikian juga ketika orang miskin meminta sesutau yang tidak sesuai dengan kemampuan orang-orang miskin maka, Rasulullah SAW juga menolaknya. (Fatawa Ibnu Taimiyah 2: 457). Ibnu Taimiyah juga menukil sebuah riwayat yang menyatakan bahwa ada tiga golongan yang tidak akan dilihat oleh Allah pada hari kiamat, mereka adalah fakir yang sombong, orang tua yang berzina dan pemimpin yang dzalim. Jika kita pahami hadits di atas, bahwa diantara golongan yang akan masuk surga adalah fakir yang bersabar dan juga orang-kaya yang bersyukur. Perbedaan keduanya menimbulkan suatu pertanyaan bagi sebagian orang, siapa yang lebih utama derajatnya, apakah orang miskin yang bersabar, ridha lagi ahli ibadah atau orang kaya yang bersyukur, dermawan lagi beribadah. Dalam hal ini Imam Ibnu Taimiyah menjelaskan keutamaan dan kelebihan masing-masing. Namun demikian Imam Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa mayoritas ulama berpendapat bahwa orang kaya lebih utama dari pada orang miskin. Karena masing-masing keduanya, baik si kaya maupun si miskin sama-sama memiliki julukan fakir di hadapan Allah SWT. sebagaimana firman Allah SWT. Yang artinya: “Hai manusia, kamulah yang berkehendak (Faqiir) kepada Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (Q.S. Fathir 35: 15). Berdasarkan ayat di atas bahwa semua manusia baik yang kaya maupun yang miskin adalah faqir di hadapan Allah SWT. Namun demikian berdasarkan hadits shahih dinyatakan bahwa “Sekelompok fakir dari kaum muhajirin mendatangi Nabi SAW, lalu mengadu: beruntunglah para orang kaya, mereka memilik derajat, kehormatan dan kedudukan. Rasul SAW berkata: apa yang kalian maksud. Mereka menjawab: Mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka puasa sebagaimana kami puasa, dan mereka sedekah sedangkan kami tidak bisa bersedekah serta mereka bisa memerdekakan budak sedangkan kami tidak bisa. Rasul SAW bersabda: maukah aku ajarkan sebuah amalan yang bisa mengungguli orang-orang sebelum dan sedudah kalian dan tidak ada yang bisa menandingi derajat kalian kecuali mereka yang berbuat seperti yang kalian amalkan. Mereka menjawab; baiklah, ya Rasulullah. Rasul bersabda: bacalah tasbih, takbir dan tahmid setiap selesai shalat masing-masing sebanyak 33 kali. Abu Shalih berkata: Kemudian orang-orang miskin itu kembali menemui Rasul SAW dan mengadu: ‘Orang-orang kaya telah mendengar hal itu dan mereka juga melakukan hal yang sama sebagaimana yang kami perbuat. Rasul SAW bersabda: Itulah kelebihan yang deberikan Allah SWT kepada siapa yang dikehendaki.” (H.R Muslim: 936) Hadits di atas menyatakan bahwa orang-orang kaya memang suatu kelebihan yang dikehendaki Allah SWT atas hamba-hamba-Nya yang dipilih. Imam Ramli menyatakan bahwa kelebihan orang kaya dibanding dengan orang miskin terletak pada kelebihan hartanya. Orang-orang kaya bisa bersedekah, berkurban, berhaji, berzakat dan ibadah-ibadah lain yang harus dengan harta, tidak demikian halnya dengan orang-orang miskin. Namun demikian Rasulullah SAW memberi kabar gembira hanya kepada orang-orang miskin, sedangkan orang-orang kaya tidak mendapat kabar gembira seperti yang diberitakan Rasul SAW. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda: “Orang-orang miskin akan masuk surga mendahului orang-orang kaya selama setengah hari atau sepadan dengan 500 tahun. (H.R. Turmidzi : 2277) Ternyata orang-orang miskin memiliki keutamaan yang tidak dimiliki orang-orang kaya, yaitu akan memasuki surga terlebih dahulu dengan jarak 500 tahun dibanding dengan orang-orang kaya. Dalam riwayat yan lain, Ibnu Taimiyah juga menukilkan, bahwasanya kelompok yang pertama kali minum telaga Rasul yang panjangnya sepanjang perjalan satu bulan dan lebarnya juga selebar perjalan satu bulan, adalah kaum miskin. Hal ini bisa dipahami bahwa orang-orang kaya tersebut masih sibuk menghadapi hisab. Sebagaimana kita tahu bahwa setiap perbuatan, umur, harta, anggota tubuh dan semua yang pernah dikerjakan dan dimiliki manusia pasti akan dihisab oleh Allah SWT. Oleh karena itu bagi orang yang punya harta yang banyak pasti akan menghadapi hisab lebih lama dibanding dengan orang yang tidak punya harta. Orang-orang miskin yang tidak banyak menghadapi hisab maka tentu akan lebih cepat memasuki surga dan akan lebih dahulu minum telaga Rasulu SAW. Dalam keterangannya, Imam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa walupun orang-orang miskin telah memasuki surga terlebih dahulu dari orang-orang kaya, namun kemungkinan kedudukan, derajat dan kenikmatan yang diberikan kepada mereka jauh lebih tinggi dan lebih baik. Hal itu dimungkinkan karena kelebihan orang kaya dalam bersedekah dan beramal lain yang memerlukan harta. Sedangkan orang miskin tidak bisa mengerjakannya karena memang tidak diwajibkan atas mereka untuk mengerjakannya, seperti qurban, haji, zakat, aqiqah, memerdekakan budak dan lain-lain. Jika membaca sejarah maka kita menemukan orang-orang yang sangat mulia dari semua golongan, baik dari kaum miskin ataupun kaum kaya. Sehingga masing-masing golongan berpendapat bahwa yang paling utama adalah yang sesuai dengan keadaannya. Orang-orang sufi menganggap bahwa orang-orang miskin yang sabar, ridha lagi ahli ibadah lebih utama dari orang kaya. Adapun sebagian ulama berpendapat bahwa orang-orang kaya yang lebih utama. Karena selain beribadah seperti ibadahnya orang miskin maka orang kaya meiliki amal yang berbeda dengan mereka. Pada dasarnya manusia itu ada tiga macam, yang pertama adalah golongan orang-orang miskin. Diantara mereka ada yang mencapai derajat sangat mulia baik dihadapan Allah maupun dihadapan manusia. Diantaranya adalah Isa bin Maryam as, Yahya bin Zakariya as, Ali bin Abi Thalib ra, Abu Dzaar al-Ghiffaari ra, Mush’ab bin Umair ra, Salman al-farisi ra dan lain-lain. Mereka ini adalah orang-orang yang dikenhendaki miskin oleh Alah namun diangkat derajatnya disisiNya melebihi yang lain. Golongan kedua adalah orang-orang kaya. Diantara mereka juga ada yang diangkat Allah SWT menjadi orang-orang mulia baik dihadapan-Nya maupun dihadapan manusia. Diantaranya adalah Nabi Ibrahim as, Nabi Ayub as, Nabi Daud as, Nabi Sualiman as, Sahabat Utsman bin Affan ra, Abdurrahman bin Auf ra, Thalhah, Zubair bin Awam ra, Abu Ayyub al-Anshari ra, Ubadah bin Shamit ra dan lain- lain. Mereka inilah dikehendaki Allah SWT memliki kelebihan harta dan juga diangkat menjadi orang-orang mulia disisi-Nya. Adapun golongan ketiga adalah yang paling mulia dihadapan semua makhluk yang ada di dunia ini, lebih tinggi derajat dari para nabi. Diala Nabi Muhammad SAW, karena Beliau SAW memilik keduanya, kaya dan miskin. Ketika menjadi kaya Beliau SAW menjadi orang yang sanngat bersyukur dan ketika dalam kondisi fakir Beliau SAW menjadi orang yang sangat penyabar. Keduanya ada pada diri Rasulullah SAW. Jadi, jika kita bercermin kepada Rasul SAW, maka kita bisa mengambil kesimpulan bahwa kunci utama keutamaan seseorang adalah karena ketaqwaannya. “…….Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.(Q.S. Al-Hujurat 49:13) Keutamaan seseroang akan diukur dari ketaqwaannya, kemudian diukur dari anugerah Allah SWT yang diberikan kepadanya. Apakah dia termasuk orang kaya yang bersyukur atau orang miskin yang sabar. Mudah-mudahan kita termasuk orang kaya yang syukur, dermawan, ahli ibadah lagi bertaqwa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar